Malam yang temaram temani langkah lelaki penuh duka yang mebisu tanpa sepatah kata pun bisa dan mampu terucap. Langkah bisu yang hanya sekedar langkah walau tak tahu harus kemana berjalan. Luka yang terlalu dalam atas lelaki bertubuh seonggok yang tertatih dalam pedih hidup yang selalu berusap dalam lindungan hati penuh duka , harus berputus atas segala yang telah hadir dalam hati yang beralun semakin hari semakin bertumpuk dalam segala hati yang terlukai ribuan hati .
Malam yang temaram harus memilih mana jalan kan terjalani ini atau harus kucari lekuk mana yang terjadi nanti ?
Malam yang temaram atas lelaki yang telah beruban dan renta harus berpulang atau harus terusi hidup penuh luka menganga ini ?
Jalan terjal & kerikil tajam telah warnai setiap retakan kaki seonggok tubuh renta lelaki ini. Ribuan hati telah jalani dan telah pula sobek hati dengan sembilu cinta. Harus sampai kapan ini kan jadi isi dalam jiwa ? harus sampai kapan jalan ini kan terus temaram ?
Lelaki tua yang tak mampu lagi bertahan atas luka yang semakin melukai ini. Lelaki tua yang tak lagi bias lakuakn semua yang bias terjadi nanti atau lusa kalau tetap bertahan atas segala perih setiap retakan kaki , setiap butir darah yang menetes , setiap sembilu luka yang menganga, setiap pedih rasa yang terasa¡¦.
Malam yang temaram temani hati kecil yang bingung langkah lekaki yang merasa kecil dan tak mungkin bisa melihat keatas lagi semasa dulu ¡¦ yang tak bisa lagi mengadu kepada siapa ini kan berjalan lagi seperti dahulu ? Lelaki yang tak mapu lagi berbicara apalagi berteriak atas semua derita ini.
Satu temaram langkah pedih, satu temaram langkah dan nafas tertahan , dalam dan menusuk atas setiap hela nafas ini. Terbatuk pun kan terasa semakin pedih.
Hanya berharap esok kan datang kala sinar kan terangi kembali.
Tapi kapan ? seibu lelaki telah terjejaki , seribu hati terlah melukai , seribu raga telah mencabuk, seribu nyawa telah coba membunuh setiap keping isi hati, seribu sukama telah hilangkan segala asa esok.
Akan kah hati ini kan bisa terobati kalau tetap hanya kureningi hati ini yang telah terluka? Akankah jantung ini kan kembali berdetak kalau sang lelaki hanya bisa merenung dan meratapi nasib? Sampai kapan kalau hanya bisa merasakan pedih tanpa bisa ada usaha mengobati ? sampai kapan kalau langkah ini tetap tertunduk dan tak mampu lagi melihat jalan mana yang kan tertempuh lelaki tua renta ini?
Lelaki yang hanya mampu tertunduk atas segala derita. Lelaki tua yang hanya bisa berduka dan tak mau mampu untuk menerima semua luka dengan iklas.
Lelaki yang hanya bisa berduka dan tak mampu berdiri lagi. Lelaki yang hanya mampu terseok tanpa ada niat untuk berjalan tegap.
Memang seribu hati telah meluai , seribu nyawa telah membelai dengan sembilu, tapi akankah sang lelaki haus terus merasakan pedihnya sembilu tanpa yang melukai tanpa usaha penyembuh? Atau hanya suatu usaha untuk lari dari semua derita dengan menutup diri tanpa mengusap peluh dan berdiri. Atau hanya tetap berjalan dan tertunduk tanpa keinginan melihat ada atau tidak sinar di sekitar yang kan bisa menerangi, tanpa bisa melihat adakah tangan yang bisa menggapai untuk bisa membasuh segala tets darah yang menetes, segala luka yang menganga dan segala serpihan nyawa yang terbuang. Atau hanya untuk terus tertunduk dan tak tahu arah kemana kan berjalan karena hanya bisa ratapi segala luka dan pedih nya ini semua.
Kalau hanya lelaki tua renta yang hanya bisa berjalan tertunduk seperti mayat tak tahu kemana arah tertuju sampai sang khalik memanggil di hari nanti, hanya seperti mayat yang membujur kaku dalam segala ikat setiap sendi yang terpaku dalam balutan kafan pucat menghias wajah biru.
Kapan sang lelaki kan bisa termukan jalan siang kan datang ? kalau hanya bisa tertunduk.
Kapan sang lelaki kan tahu sudahkah sekarang siang atau malam kalau hanya menutup diri dalam luka yang pedih dan menganga?
kalau hanya brkisah demikian buat apa sebuah drama kehidupan harus ada lakon utama seorang leaki tua yang renta ? kenapa tidak yang lain yang lebi mampu suguhkan sandiwara kehidupan yang sebenarnya. Buat apa harus ada lakon utama lelaki tua yang tak tahu alur ekmana harus diabwa karena hanya tetap berkiprah dalam kepala tertunduk dan tubuh penuh luka yang bersibah darah.
Kenapa harus ada lakon lelaki tua yang tak tahu apa judul sandiwara ini , tanpa tahu kemana ending harus berakhir , sampai dimana alur yang harus dilakon kan ? atau apa naskah yang harus berbicara. Karena lelaki hanya bisa tertunduk dan membisu tanpa melihat naskah drama ini.
Semoga lelaki tua renta kan temukan jalan pulang atau harus pergi untuk satu tujuan pasti nantinya, dank an tahu naskah mana yang harus bicara¡¦.
Hanya lelaki yang bisa bicara , hanya lelaki yang bisa berjalan lebih tegar , hanya lelaki yang bisa obati setiap nanar luka atau hanya dibiarkan penuh nanah dan bau busuk yang smakin menusuk, hanya lelaki yang bisa lihat dimana ka nada secercah sinar yang kan beri jalan kembali atau berjalan ekmana harus pergi untuk jemput siang tuk bisa lepas malam temaram ini.
02.00 am, Cikarang
untuk yang terkasih
Posted at 10/10/2006 3:22:54 am by
dharmadmaja
Permalink